J. Oswald Sanders berkata “The mind of man is the battle ground on which every moral and spiritual battle is fought.”. Memang, di dalam pikiran manusialah seringkali terjadi peperangan antara menuruti kehendak Allah atau terseret pada kehendak setan dan kedagingan. Terkadang dalam peperangan ini, beberapa orang menyerah kalah dan lebih menururuti kehendak setan atau kehendak dagingnya yang cenderung bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Sejak manusia diciptakan Allah di Taman Eden, maka mereka bergumul dengan pikirannya. Hal yang dipertentangkan adalah masalah “buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”, boleh atau tidak memakan buah tersebut? Di satu sisi, Allah sudah berfirman kepada Adam: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16). Namun, di sisi lain ular (gambaran iblis) memberikan pendapat yang seolah-olah benar dan bijaksana: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jaahat” (Kejadian 3:4-5). Maka timbullah peperangan dalam pikiran Hawa.
Hawa akhirnya terpikat oleh bujukan ular. Dia mulai melirik buah terlarang itu. Pikirannya yang sudah teracuni perkataan si ular mulai beranggapan bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Dari pikiran yang disesatkan ini, Hawa semakin terpuruk, dengan memetik buah terlarang itu dan memakannya. Dan yang lebih paranya, perempuan ini malah memberikan kepada suaminya. Memang, perkataan si ular bahwa setelah makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, maka matanya akan terbuka dan menjadi “seperti Allah”. Namun sayang, Adam bersama Hawa melanggar perintah Tuhan, sehingga dia menjadi malu akan keadaannya yang telanjang. Dan lebih parah lagi bahwa kemuliaan Allah atas diri mereka sudah hilang. Adam bersama isterinya diusir dari Taman Eden dan harus menerima konsekuensi atas dosanya, terkutuk.
Pikiran manusia menjadi ajang penyesatan dari musuh kita, yaitu iblis. Dia berusaha dengan berbagai cara untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan ke dalam dosa penyesatan. Sepertinya pengajaran yang diajarkan sudah sesuai Alkitab, sebab memakai kutipan dari ayat-ayat dalam Alkitab. Tetapi sesungguhnya sudah melenceng jauh dari maksud penulisnya. Dari penafsiran yang salah terhadap ayat tertentu dalam Alkitab, oleh beberapa orang kemudian diajarkan kepada orang lain, sehingga terbentuklah perkumpulan-perkumpulan. Perkumpulan-perkumpulan ini menganggap bahwa pengajaran merekalah yang benar, dan ajaran yang dulu mereka anut itulah yang salah. Padahal, justru pengajaran merekalah yang salah, sebab sudah melenceng jauh dari tujuan utama ayat itu sendiri.
Bahaya dari penyesatan melalui pikiran ini berjalan pelan tapi pasti. Bila seseorang tidak menyadari akan hal ini dapat berakibat fatal. “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati” (Amsal 21:2). Orang menganggap bahwa jalan yang sedang ia tempuh adalah jalan yang benar, padahal jalan tersebut berujung pada kebinasaan. “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25). Oleh karena itu baiklah kita menjaga pikiran kita dengan beberapa hal berikut:
Memenuhi pikiran kita dengan ayat-ayat firman Tuhan. Bacalah setiap hari firman Tuhan, minimal 3-4 pasal. Alangkah baiknya jika ayat-ayat tersebut diucapkan dengan bersuara, sebab akan didengar oleh telinga kita sendiri dan akan menghasilkan iman (Roma 10:17).
Pikirkanlah pikiran yang benar dan suci (Filipi 4:8). Memikirkan hal-hal yang baik dan berkenan di hati Tuhan. Jauhkan prasangka buruk dan negatif terhadap suatu peristiwa yang buruk.
Bergaullah dengan mereka yang berpikiran baik, hindari bergaul dengan orang yang berpikiran jahat atau buruk.
Menyertakan Tuhan dalam setiap perencanaan dan tindakan. Hidup mengandalkan Tuhan, termasuk dalam hal berpikir. Menaklukkan pikiran kita kepada pikiran Kristus. (dari buku Potret Kehidupan karya Tony Tedjo)
Kita perlu mewaspadai terhadap adanya bahaya penyesatan yang datang dengan berbagai rupa, seperti tayangan TV yang menayangkan film-film dengan cerita yang seringkali bertentangan dengan firman Tuhan. Kita dituntut untuk berpikir kritis, tidak langsung telan dan menerima begitu saja terhadap berbagai ajaran yang diperhadapkan di depan mata kita.
Motto: "Mencerdaskan, Memberkati, Menjangkau"
Tampilkan postingan dengan label Pelayanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelayanan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Maret 2011
TAK GENDONG KE MANA-MANA
Suatu kali seorang pemuda bermimpi berada di sebuah tepian pantai. Di sana terhampar pasir putih yang berkilauan terkena sinar matahari. Dalam mimpinya, pemuda tersebut melihat dua buah pasang jejak kaki. Satu pasang jejak kaki adalah miliknya, dan sepasang yang lain milik Tuhan. Dua pasang jejak kaki tersebut berjalan sepanjang tepian pantai putih yang indah itu. Namun, mendadak muncul angin puting beliung menuju ke arah jejak kaki tersebut. Anehnya, sewaktu angin tersebut akan menerpa dua pasang jejak kaki itu, ternyata jejak tersebut malah berkurang menjadi satu pasang jejak kaki saja. Pemuda ini berpikir, sewaktu keadaan tenang, Tuhan selalu bersama-Nya, kok ketika keadaan sedang kritis, malah dia ditinggal sendirian. Beberapa waktu kemudian terdengar suara Tuhan, “sepasang jejak kaki tersebut bukan milikmu, tapi milik-Ku.” Pemuda ini kembali bertanya, “lalu di mana jejak kaki kepunyaanku?” “Jejak kakimu tidak ada lagi, sebab kamu sedang Ku-gendong,” Tuhan kembali menyahut. Dari kisah ini kita belajar bahwa kalau kita berjalan bersama Tuhan, pasti Dia akan menolong kita.
Berjalan bersama Tuhan itu memerlukan kesabaran dan kesetiaan. Jangan memaksakan kehendak kita. Biarkan Tuhan yang menuntun kita ke jalan yang benar, sampai pada finish. Sebab kita yakin bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera yang mendatangkan kebaikan bagi kita (Yeremia 11:29). Sebab bila memaksakan kehendak kita, bisa-bisa untuk sampai ke finish harus memakan waktu puluhan tahun, padahal sebenarnya bila kita menurut saja, perjalanan tersebut hanya memakan setahun atau dua tahun aja. Bukti sejarahnya adalah bangsa Israel.
Bangsa Israel harus berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan selama 40 tahun (Keluaran 13:18; 16:35). Mereka harus berputar-putar terlebih dahulu di padang gurun. Padahal bila dilihat dari jarak yang seharusnya mereka tempuh, perjalanan tersebut paling tidak hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 hari. Mengapa mereka harus mengalami hal itu? Supaya mereka benar-benar menyadari bahwa kalau perjalanan mereka berhasil sampai di tempat tujuan, bukanlah karena kekuatan dan kehebatan mereka, melainkan hanya karena anugerah Tuhan saja. Tuhanlah yang memimpin dan menyertai mereka selama berada di padang gurun. Buktinya, kasut (sandal) yang mereka kenakan tidak cepat rusak. Mereka diberi makan manna dan burung puyuh selama 40 tahun oleh Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka air untuk diminum, sehingga mereka tidak kehausan sepanjang perjalanan tersebut.
Apabila bangsa Israel yang tegar tengkuk itu dibiarkan berjalan hanya menempuh waktu sekitar 10 hari saja, dapat dipastikan bahwa mereka akan sombong. Menganggap jika mereka bisa sampai di Tanah Kanaan adalah karena kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, bukan karena pertolongan Tuhan. Hal ini tidak dikehendaki Tuhan. Maka Tuhan membuat perjalanan bangsa Israel itu menjadi sangat lama, bertujuan untuk merendahkan hati mereka. Sampai mereka benar-benar mengakui kemahakuasaan dan keperkasaan Tuhan atas hidup mereka. Sayangnya, hanya dua orang saja yang bisa sampai di Tanah Kanaan, yakni Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun. Selebihnya, termasuk Musa dan Harus, harus mati di padang gurun.
Dalam perjalanan hidup kita, penting sekali berjalan bersama Tuhan. Berarti kita harus menanggalkan semua agenda hidup kita dan mengisinya dengan agenda-Nya. Kita harus mengikuti kehendak Tuhan atas hidup kita. Selama kita mengandalkan Tuhan, maka apa saja yang kita kerjakan akan menjadi berhasil (Yeremia 17:7). Contoh nyata adalah Yusuf. Di manapun dia berada, bahkan dalam penjara sekalipun, ketika Tuhan menyertainya, maka kehidupannya menjadi berhasil (Kejadian 39:2, 23; 41:40). Namun ketika mengandalkan kepada kekuatan sendiri, di sinilah awal kehancuran kita (Yeremia 17:5). Contohnya adalah Simson. Di mana dia harus mati tragis, kedua matanya buta (Hakim-hakim 16:23-30).
Keputusan kita sekarang sangat menentukan akan menjadi apa kita nanti. Oleh karena itu, sekarang juga putuskanlah agar kita mau berjalan bersama Tuhan dan menyerahkan semua hak yang kita miliki untuk diberikan kepada-Nya. Biarkan Tuhan sendiri yang menuntun jalan hidup kita sampai kepada tempat tujuan akhir. (diambil dari buku Potret Kehidupan karya Tony Tedjo)
Berjalan bersama Tuhan itu memerlukan kesabaran dan kesetiaan. Jangan memaksakan kehendak kita. Biarkan Tuhan yang menuntun kita ke jalan yang benar, sampai pada finish. Sebab kita yakin bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera yang mendatangkan kebaikan bagi kita (Yeremia 11:29). Sebab bila memaksakan kehendak kita, bisa-bisa untuk sampai ke finish harus memakan waktu puluhan tahun, padahal sebenarnya bila kita menurut saja, perjalanan tersebut hanya memakan setahun atau dua tahun aja. Bukti sejarahnya adalah bangsa Israel.
Bangsa Israel harus berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan selama 40 tahun (Keluaran 13:18; 16:35). Mereka harus berputar-putar terlebih dahulu di padang gurun. Padahal bila dilihat dari jarak yang seharusnya mereka tempuh, perjalanan tersebut paling tidak hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 hari. Mengapa mereka harus mengalami hal itu? Supaya mereka benar-benar menyadari bahwa kalau perjalanan mereka berhasil sampai di tempat tujuan, bukanlah karena kekuatan dan kehebatan mereka, melainkan hanya karena anugerah Tuhan saja. Tuhanlah yang memimpin dan menyertai mereka selama berada di padang gurun. Buktinya, kasut (sandal) yang mereka kenakan tidak cepat rusak. Mereka diberi makan manna dan burung puyuh selama 40 tahun oleh Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka air untuk diminum, sehingga mereka tidak kehausan sepanjang perjalanan tersebut.
Apabila bangsa Israel yang tegar tengkuk itu dibiarkan berjalan hanya menempuh waktu sekitar 10 hari saja, dapat dipastikan bahwa mereka akan sombong. Menganggap jika mereka bisa sampai di Tanah Kanaan adalah karena kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, bukan karena pertolongan Tuhan. Hal ini tidak dikehendaki Tuhan. Maka Tuhan membuat perjalanan bangsa Israel itu menjadi sangat lama, bertujuan untuk merendahkan hati mereka. Sampai mereka benar-benar mengakui kemahakuasaan dan keperkasaan Tuhan atas hidup mereka. Sayangnya, hanya dua orang saja yang bisa sampai di Tanah Kanaan, yakni Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun. Selebihnya, termasuk Musa dan Harus, harus mati di padang gurun.
Dalam perjalanan hidup kita, penting sekali berjalan bersama Tuhan. Berarti kita harus menanggalkan semua agenda hidup kita dan mengisinya dengan agenda-Nya. Kita harus mengikuti kehendak Tuhan atas hidup kita. Selama kita mengandalkan Tuhan, maka apa saja yang kita kerjakan akan menjadi berhasil (Yeremia 17:7). Contoh nyata adalah Yusuf. Di manapun dia berada, bahkan dalam penjara sekalipun, ketika Tuhan menyertainya, maka kehidupannya menjadi berhasil (Kejadian 39:2, 23; 41:40). Namun ketika mengandalkan kepada kekuatan sendiri, di sinilah awal kehancuran kita (Yeremia 17:5). Contohnya adalah Simson. Di mana dia harus mati tragis, kedua matanya buta (Hakim-hakim 16:23-30).
Keputusan kita sekarang sangat menentukan akan menjadi apa kita nanti. Oleh karena itu, sekarang juga putuskanlah agar kita mau berjalan bersama Tuhan dan menyerahkan semua hak yang kita miliki untuk diberikan kepada-Nya. Biarkan Tuhan sendiri yang menuntun jalan hidup kita sampai kepada tempat tujuan akhir. (diambil dari buku Potret Kehidupan karya Tony Tedjo)
UPAH KETEKUNAN
"Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya." (Matius 25:29)
Seorang pemuda melamar pekerjaan di perusahaan Komputer Microsoft. Sewaktu dia diwawancara, dia ditanya apakah mempunyai email? Karena dia tidak memiliki email, maka lamarannya ditolak. Pemuda ini tidak berkecil hati, dia mengumpulkan uang yang dimilikinya. Sebut saja Rp5.000. Dengan uang ini dia membeli tomat 1 kg. Kemudian dijual dengan menjajakannya berkeliling komplek perumahan. Setelah tomatnya habis, dia pakai uangnya yang sudah menjadi Rp10.000 ini untuk membeli tomat 2 kg. Dengan tekun dia kembali menjualnya. Singkat cerita, dari penjualan tomat 1 kg, kini dia menjadi orang kaya dan bisa memiliki pabrik saus tomat yang bisa memproduksi berpuluh-puluh kilo saus tomat. Inilah upah sebuah ketekunan.
Dalam perumpamaan mengenai talenta juga kita melihat bahwa orang-orang yang tekun dapat berhasil dalam hidupnya. Mereka yang menerima dua dan lima telanta masing-masing memperoleh keuntungan dua kali lipat karena ketekunannya dalam mengembangkan usaha yang dipercayakan sang tuan kepadanya. Lain halnya dengan hamba yang menerima satu talenta, karena dia tidak tekun, banyak bersungut-sungut dan malas, akhirnya apa yang dia miliki malah diambil kembali oleh tuannya.
Sabahat NK, penting sekali memiliki sikap tekun. Dari yang main gitar hanya tiga kunci, dia bisa menjadi seorang pemain gitar yang handal karena dia tekun. Dengan tekun dia mengiringi main gitar di komsel. Karena dia sering memainkan gitarnya, maka lama-kelamaan kaahliannya memainkan gitar bertambah. Sampai akhirnya dia mampu memainkan gitar dengan berbagai kunci yang sulit sekalipun. Inilah upah sebuah ketekunan. Saudara mau agar usahamu berhasil? Sukses dalam karier dan pelayanan? Kuncinya adalah ketekunan. Tekun berdoa, tekun mencoba lagi, tekun menunggu wampai waktunya Tuhan tiba. (Tony Tedjo)
Seorang pemuda melamar pekerjaan di perusahaan Komputer Microsoft. Sewaktu dia diwawancara, dia ditanya apakah mempunyai email? Karena dia tidak memiliki email, maka lamarannya ditolak. Pemuda ini tidak berkecil hati, dia mengumpulkan uang yang dimilikinya. Sebut saja Rp5.000. Dengan uang ini dia membeli tomat 1 kg. Kemudian dijual dengan menjajakannya berkeliling komplek perumahan. Setelah tomatnya habis, dia pakai uangnya yang sudah menjadi Rp10.000 ini untuk membeli tomat 2 kg. Dengan tekun dia kembali menjualnya. Singkat cerita, dari penjualan tomat 1 kg, kini dia menjadi orang kaya dan bisa memiliki pabrik saus tomat yang bisa memproduksi berpuluh-puluh kilo saus tomat. Inilah upah sebuah ketekunan.
Dalam perumpamaan mengenai talenta juga kita melihat bahwa orang-orang yang tekun dapat berhasil dalam hidupnya. Mereka yang menerima dua dan lima telanta masing-masing memperoleh keuntungan dua kali lipat karena ketekunannya dalam mengembangkan usaha yang dipercayakan sang tuan kepadanya. Lain halnya dengan hamba yang menerima satu talenta, karena dia tidak tekun, banyak bersungut-sungut dan malas, akhirnya apa yang dia miliki malah diambil kembali oleh tuannya.
Sabahat NK, penting sekali memiliki sikap tekun. Dari yang main gitar hanya tiga kunci, dia bisa menjadi seorang pemain gitar yang handal karena dia tekun. Dengan tekun dia mengiringi main gitar di komsel. Karena dia sering memainkan gitarnya, maka lama-kelamaan kaahliannya memainkan gitar bertambah. Sampai akhirnya dia mampu memainkan gitar dengan berbagai kunci yang sulit sekalipun. Inilah upah sebuah ketekunan. Saudara mau agar usahamu berhasil? Sukses dalam karier dan pelayanan? Kuncinya adalah ketekunan. Tekun berdoa, tekun mencoba lagi, tekun menunggu wampai waktunya Tuhan tiba. (Tony Tedjo)
Rabu, 02 Maret 2011
Panggilan Mulia
“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk’” (Markus 16:15).
Setiap pengikut Kristus dipanggil untuk melanjutkan karya-Nya yang masih belum selesai, yakni memberitakan Injil kepada semua orang. Amanat Agung yang tercatat dalam Matius 28:19-20 menggugah kita untuk senantiasa bergairah dalam memberitakan Injil. Di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun, perintah untuk memberitakan Injil ini seharusnya kita kerjakan. Waktu kita mengerjakannya, ada upah atas jerih lelah kita tersebut (1 Korintus 15:58). Kita juga percaya bahwa setiap benih firman Tuhan yang kita taburkan tidak akan kembali dengan sia-sia, suatu saat benih firman Tuhan yang sudah ditaburkan itu akan bertumbuh.
Pada waktu Tuhan Yesus mengutus kepada murid-murid-Nya, Dia memberikan kuasa kepada mereka (Lukas 9:1). Kuasa Allah ini sangat penting sewaktu kita memberitakan Injil. Kuasa Allah ini bisa kita dapatkan apabila kita sudah dipenuhi oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8). Tanpa kuasa Allah, maka yang terjadi adalah penyangkalan. Seperti yang pernah terjadi pada diri Petrus. Baru setelah Roh Kudus turun dan memenuhi Petrus, maka dia menjadi seorang pemberani. Meski masuk penjara dan diancam akan dibunuh, dia tetap saja memberitakan Injil. Dan buah dari pemberitaan Injilnya tidak sia-sia. Pertama kali dia berkhotbah ada 3000 orang bertobat dan dibaptiskan (Kisah Para Rasul 2:41). Memang, sekalipun akhir hidup Petrus mengenaskan, dia mati disalibkan secara terbalik di Roma. Namun buah pelayanannya tidak sia-sia.
Suatu penghiburan bahwa Tuhan berjanji untuk senantiasa menyertai sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20b). Termasuk sewaktu kita sedang memberitakan Injil di berbagai tempat. Meski ada tekanan, ancaman, dan aniaya, namun tetap gigih memberitakan Injil. Seperti yang dialami oleh Paul-Le-Bao-Tinh, seorang percaya Vietnam yang dieksekusi mati tahun 1843 karena memberitakan Injil kepada orang-orang sebangsanya.
Memang, sewaktu kita memberitakan Injil di lapangan, tidak semudah yang dibayangkan. Kita akan menemui berbagai kesulitan dan tantangan yang berat. Akan tetapi dengan kuasa dan pertolongan Roh Kudus, maka kita bisa tetap memberitakan Injil dengan berani. Sampai “setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa“ (Filipi 2:10-11). Kita pun diberi kuasa untuk mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mengadakan berbagai mukjizat dalam nama-Nya (Markus 16:17-18).
Hargailah panggilan mulia ini, yaitu meneruskan karya Yesus di bumi, untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama-Nya. Ingatlah bahwa satu jiwa sangat berharga di mata Tuhan. Selamat menjadi mitra kerja-Nya. (Tony Tedjo seorang penulis 10 buku, Pendiri dan Ketua SOW, dapat ditemui di tonytedjo@gmail.com atau tony_kharis@yahoo.com)
Setiap pengikut Kristus dipanggil untuk melanjutkan karya-Nya yang masih belum selesai, yakni memberitakan Injil kepada semua orang. Amanat Agung yang tercatat dalam Matius 28:19-20 menggugah kita untuk senantiasa bergairah dalam memberitakan Injil. Di manapun, kapanpun, dan dalam keadaan bagaimanapun, perintah untuk memberitakan Injil ini seharusnya kita kerjakan. Waktu kita mengerjakannya, ada upah atas jerih lelah kita tersebut (1 Korintus 15:58). Kita juga percaya bahwa setiap benih firman Tuhan yang kita taburkan tidak akan kembali dengan sia-sia, suatu saat benih firman Tuhan yang sudah ditaburkan itu akan bertumbuh.
Pada waktu Tuhan Yesus mengutus kepada murid-murid-Nya, Dia memberikan kuasa kepada mereka (Lukas 9:1). Kuasa Allah ini sangat penting sewaktu kita memberitakan Injil. Kuasa Allah ini bisa kita dapatkan apabila kita sudah dipenuhi oleh Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8). Tanpa kuasa Allah, maka yang terjadi adalah penyangkalan. Seperti yang pernah terjadi pada diri Petrus. Baru setelah Roh Kudus turun dan memenuhi Petrus, maka dia menjadi seorang pemberani. Meski masuk penjara dan diancam akan dibunuh, dia tetap saja memberitakan Injil. Dan buah dari pemberitaan Injilnya tidak sia-sia. Pertama kali dia berkhotbah ada 3000 orang bertobat dan dibaptiskan (Kisah Para Rasul 2:41). Memang, sekalipun akhir hidup Petrus mengenaskan, dia mati disalibkan secara terbalik di Roma. Namun buah pelayanannya tidak sia-sia.
Suatu penghiburan bahwa Tuhan berjanji untuk senantiasa menyertai sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20b). Termasuk sewaktu kita sedang memberitakan Injil di berbagai tempat. Meski ada tekanan, ancaman, dan aniaya, namun tetap gigih memberitakan Injil. Seperti yang dialami oleh Paul-Le-Bao-Tinh, seorang percaya Vietnam yang dieksekusi mati tahun 1843 karena memberitakan Injil kepada orang-orang sebangsanya.
Memang, sewaktu kita memberitakan Injil di lapangan, tidak semudah yang dibayangkan. Kita akan menemui berbagai kesulitan dan tantangan yang berat. Akan tetapi dengan kuasa dan pertolongan Roh Kudus, maka kita bisa tetap memberitakan Injil dengan berani. Sampai “setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa“ (Filipi 2:10-11). Kita pun diberi kuasa untuk mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mengadakan berbagai mukjizat dalam nama-Nya (Markus 16:17-18).
Hargailah panggilan mulia ini, yaitu meneruskan karya Yesus di bumi, untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama-Nya. Ingatlah bahwa satu jiwa sangat berharga di mata Tuhan. Selamat menjadi mitra kerja-Nya. (Tony Tedjo seorang penulis 10 buku, Pendiri dan Ketua SOW, dapat ditemui di tonytedjo@gmail.com atau tony_kharis@yahoo.com)
Langganan:
Postingan (Atom)