Motto: "Mencerdaskan, Memberkati, Menjangkau"

Kamis, 31 Maret 2011

Buku Baru

Dapatkan buku Menyusun Kata-Kata Merangkai Kalimat, sebuah buku panduan bagi penulis pemula yang hendak membuat buku. Isinya sangat mudah dicerna, dan disertai latihan yang dapat memacu Anda untuk membuat buku. Hanya Rp20.000. Beli 2 gratis 1 (untuk luar Bandung kena ongkos kirim). Pesan sekarang ke 081394401799 atau tonytedjo@gmail.com. Anda tidak akan kecewa.

SOW Paskah

Dalam rangka menyambut PASKAH 2011, Sekolah Menulis Alkitabiah (SOW) akan mengadakan Belajar Menulis Buku. Pada tgl. 22 April 2011. Di Jl. Sadewa 14 Pajajaran Bandung. Anda akan diajari tips menulis buku dan membongkar rahasia menerbitkan buku. Hanya Rp70.000, sudah termasuk gathering bersama Pak Tony Tedjo, bonus buku Menyusun Kata-kata Merangkai Kalimat, Member card (kartu anggota SOW dan diskon di Metanoia & Agape), Sertifikat. Daftarkan sebelum 18 April 2011 ke 081394401799 atau tonytedjo@gmail.com. Terbatas hanya 20 orang.

Kamis, 24 Maret 2011

Menghormati Ibu

Sebuah kisah legenda klasik, yakni kisah “Malin Kundang,” mengisahkan kehidupan seorang anak yang durhaka, bernama Malin Kundang. Sejak kecil hingga dewasa dia dibesarkan oleh ibunya, namun segala kebaikan sang ibu dibalas dengan sikap yang tercela. Dia tidak mau mengakui ibunya di depan umum, bahkan berani mengusir ibunya dan mengatakan tidak pernah mengenal si ibu tersebut. Di akhir cerita, si anak durhaka ini menerima kutukan menjadi sebuah patung.
Soso seorang ibu di mata anak-anaknya merupakan pribadi yang harus dihormati sepanjang hidup mereka. Segala kebaikan yang telah diberikan ibu kepada anaknya tidak dapat digantikan dengan uang. Sebab tidak mungkin untuk membalas segala kebaikan dan pemeliharaannya. Dari sejak bayi hingga menjadi dewasa dan berhasil dalam karirnya, semua itu berkat campur tangan sang ibu.
Begitu sangat dihormatinya sosok ibu, sehingga ada sebuah pepatah yang berbunyi ”surga berada dibawah telapak kaki ibu.” Maksudnya tentu bukan berarti ketika membuka telapak kaki ibu, kita langsung menemukan surga. Yang dimaksud adalah kalau mau diberkati harus menghormati ibunya. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan.
Alkitab mencatat bahwa penting sekali untuk menghormati orangtua, sebab Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya ketika kita mentaati firman-Nya. Berulang-ulang Alkitab menegaskan agar kita menghormati kedua orangtua kita. Berikut ini petikan ayat-ayat tersebut:

”Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12).

”Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Ulangan 5:16).

”Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: siapa yang mengutuki ayahmu dan ibumu pasti dihukum mati” (Matius 15:4).

”...hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 19:19).

”Karena Musa telah berkata: ’Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati’” (Markus 7:10).

”Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” (Markus 10:19).

”Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu” (Lukas 18:20).

”Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Efesus 6:2-3).

Dari kutipan ayat-ayat tersebut nampak jelas bahwa menghormati orangtua itu diharuskan. Sebab sewaktu kita menghormati mereka, berkat Tuhan akan dicurahkan. Hanya saja dalam menghormati orangtua tidak boleh berlebihan, jangan sampai ”mentuhankan” mereka dengan menyembahnya. Artinya nasehat dan perkataan mereka boleh kita turuti dan dilakukan, asalkan tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Penghormatan yang paling utama dan terutama hanya pada Tuhan, setelahnya baru kepada orangtua. Penghormatan kepada orangtua juga tidak boleh sampai menyembahnya.
Penghormatan kepada orangtua kita harus diberikan selagi mereka masih hidup, bukannya setelah mereka meninggal. Wujud perhatian itu dapat berupa memberikan makanan yang mereka mau, mengajaknya jalan-jalan ke tempat wisata, dan membelikan apa yang diingini mereka. Tentunya semua itu dapat dilakukan diimbangi dengan kondisi keuangan kita. Usahakan jangan sampai membawa orangtua kita ke panti jompo, sebisa mungkin kita harus merawatnya sendiri.
Dengan memberikan penghormatan khusus kepada orangtua, khususnya ibu yang telah melahirkan kita, kita setidaknya bisa membalas sedikit kebaikan mereka. Selain itu agar hidup kita diberkati, karena menjalankan nasehat firman Tuhan untuk menghormati orangtua.

Pdp. Tony Tedjo, M.Th melayani pelayanan literatur, pendiri dan ketua SOW, penulis buku

Selasa, 08 Maret 2011

Private Menulis

Anda yang rindu ingin menjadi penulis, tetapi kesulitan mengatur waktunya. Jangan kuatir! Kini SOW bisa semakin dekat dengan Anda. Anda bisa mengikuti private menulis dengan materi boleh memilih sendiri, antara lain: Menulis cerpen, menulis buku, menulis renungan, menulis biografi, manajemen penerbitan buku.
Bagi anda yang berminat, silakan hubungi 081394401799 atau tonytedjo@gmail.com

INDAHNYA SEBUAH PERUBAHAN

Perubahan selalu diawali dengan proses. Tanpa adanya proses tidak mungkin terjadi perubahan. Dalam sebuah proses terjadi pembentukan. Dibentuk untuk menjadi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti halnya seekor ulat yang hendak berubah menjadi kupu-kupu. Dia harus menjalani suatu rangkaian proses yang berhari-hari, sebelum pada akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Dalam menjalani masa transisi dari seekor ulat menjadi kupu-kupu, ulat harus menjadi kepongpong terlebih dahulu. Sewaktu menjadi kepongpong, si ulat harus tinggal dalam kesunyian dan tidak bisa melihat indahnya dunia untuk sementara waktu sampai saat yang tepat. Diperlukan kesabaran dan ketekunan agar bisa mencapai waktu yang tepat. Bila seekor ulat tidak sabar untuk cepat-cepat membuka kepongpongnya, maka tidak akan terjadi perubahan apa-apa dalam dirinya. Sebab pada waktu dia merobek kepongpong yang menutupi dirinya sebelum waktu yang ditentukan, bersamaan dengan itu pula cairan dalam dirinya akan terbuang keluar. Padahal dari cairan inilah bisa tumbuh dalam diri ulat sebuah sayap, yang mengubah penampilannya menjadi seekor kupu-kupu.
Kehidupan manusia pun mengalami perubahan. Dari keadaan bayi menjadi seorang anak. Kemudian menjadi dewasa. Dalam perubahan ini terjadi sebuah proses. Dari tidak bisa berjalan dan tidak bisa berbicara hiingga bisa berlari dan berbicara.
Yeremia 18:1-6 mengisahkan tentang pekerjaan tukang periuk. Tanah liat harus mau dibentuk menjadi sebuah benda menurut kemauan si tukang. Bila tukang periuk hendak menjadikan tanah liat yang ada ditangannya menjadi sebuah guci, maka mau tidak mau dia harus mau. Dan bila sudah menjadi sebuah guci, namun dirasa masih kurang baik, si tukang bisa saja mengerjakannya kembali menjadi bejalan lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Ada proses yang harus dialami oleh tanah liat sebelum menjadi sebuah guci dengan ukiran yang indah.
Belajar dari tukang periuk dan tanah liat di atas, ada hal yang bisa kita simak: Pertama, ketaatan. Kehidupan kita seperti tanah liat di tangan Tuhan. Kita harus menerima prosesnya Tuhan tanpa bersikap memberontak. Sebab memberontak berarti semakin memperlambat proses perubahan. Satu hal yang pasti bahwa perubahan yang diharapkan Tuhan adalah perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih berharga. Menjadi hidup yang lebih bernilai.
Kedua, kesetiaan. Untuk berubah dituntut kesetiaan. Setia untuk menanti sampai waktunya tiba. Jangan tergesa-gesa mengambil caranya sendiri untuk perubahan atas diri kita. Tunggulah sampai waktunya Tuhan tiba. Sebab waktu Tuhan itu indah (Pengkhotbah 3:11).
Ketiga, keseriusan. Setelah berubah, jangan mau menjadi seperti keadaan yang dulu lagi. Harus serius, bahwa keadaan sekarang sudah berubah. Hidup kita sudah berubah dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran. Menjadi ciptaan yang baru di dalam Tuhan (II Korintus 5:17) dan hidup menjauhi dosa.
Satu hal yang dituntut oleh kita apabila kita menghendaki perubahan, apakah sudah siap untuk menerima perubahan itu sendiri? Bersiap-siaplah, Tuhan akan mengubah kehidupan kita, menjadi kehidupan yang lebih mulia. Kehidupan yang berlimpah di dalam anugerah dan berkat Allah. (Tony Tedjo, M.Th. Ketua Sekolah Menulis Alkitabiah dan Ketua Komunitas Penulis Rohani, bisa dihubungi di 081394401799 atau 08888255416)

Minggu, 06 Maret 2011

PIKIRAN, AJANG PENYESATAN

J. Oswald Sanders berkata “The mind of man is the battle ground on which every moral and spiritual battle is fought.”. Memang, di dalam pikiran manusialah seringkali terjadi peperangan antara menuruti kehendak Allah atau terseret pada kehendak setan dan kedagingan. Terkadang dalam peperangan ini, beberapa orang menyerah kalah dan lebih menururuti kehendak setan atau kehendak dagingnya yang cenderung bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Sejak manusia diciptakan Allah di Taman Eden, maka mereka bergumul dengan pikirannya. Hal yang dipertentangkan adalah masalah “buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat”, boleh atau tidak memakan buah tersebut? Di satu sisi, Allah sudah berfirman kepada Adam: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16). Namun, di sisi lain ular (gambaran iblis) memberikan pendapat yang seolah-olah benar dan bijaksana: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jaahat” (Kejadian 3:4-5). Maka timbullah peperangan dalam pikiran Hawa.
Hawa akhirnya terpikat oleh bujukan ular. Dia mulai melirik buah terlarang itu. Pikirannya yang sudah teracuni perkataan si ular mulai beranggapan bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Dari pikiran yang disesatkan ini, Hawa semakin terpuruk, dengan memetik buah terlarang itu dan memakannya. Dan yang lebih paranya, perempuan ini malah memberikan kepada suaminya. Memang, perkataan si ular bahwa setelah makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, maka matanya akan terbuka dan menjadi “seperti Allah”. Namun sayang, Adam bersama Hawa melanggar perintah Tuhan, sehingga dia menjadi malu akan keadaannya yang telanjang. Dan lebih parah lagi bahwa kemuliaan Allah atas diri mereka sudah hilang. Adam bersama isterinya diusir dari Taman Eden dan harus menerima konsekuensi atas dosanya, terkutuk.
Pikiran manusia menjadi ajang penyesatan dari musuh kita, yaitu iblis. Dia berusaha dengan berbagai cara untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan ke dalam dosa penyesatan. Sepertinya pengajaran yang diajarkan sudah sesuai Alkitab, sebab memakai kutipan dari ayat-ayat dalam Alkitab. Tetapi sesungguhnya sudah melenceng jauh dari maksud penulisnya. Dari penafsiran yang salah terhadap ayat tertentu dalam Alkitab, oleh beberapa orang kemudian diajarkan kepada orang lain, sehingga terbentuklah perkumpulan-perkumpulan. Perkumpulan-perkumpulan ini menganggap bahwa pengajaran merekalah yang benar, dan ajaran yang dulu mereka anut itulah yang salah. Padahal, justru pengajaran merekalah yang salah, sebab sudah melenceng jauh dari tujuan utama ayat itu sendiri.
Bahaya dari penyesatan melalui pikiran ini berjalan pelan tapi pasti. Bila seseorang tidak menyadari akan hal ini dapat berakibat fatal. “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati” (Amsal 21:2). Orang menganggap bahwa jalan yang sedang ia tempuh adalah jalan yang benar, padahal jalan tersebut berujung pada kebinasaan. “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25). Oleh karena itu baiklah kita menjaga pikiran kita dengan beberapa hal berikut:
Memenuhi pikiran kita dengan ayat-ayat firman Tuhan. Bacalah setiap hari firman Tuhan, minimal 3-4 pasal. Alangkah baiknya jika ayat-ayat tersebut diucapkan dengan bersuara, sebab akan didengar oleh telinga kita sendiri dan akan menghasilkan iman (Roma 10:17).
Pikirkanlah pikiran yang benar dan suci (Filipi 4:8). Memikirkan hal-hal yang baik dan berkenan di hati Tuhan. Jauhkan prasangka buruk dan negatif terhadap suatu peristiwa yang buruk.
Bergaullah dengan mereka yang berpikiran baik, hindari bergaul dengan orang yang berpikiran jahat atau buruk.
Menyertakan Tuhan dalam setiap perencanaan dan tindakan. Hidup mengandalkan Tuhan, termasuk dalam hal berpikir. Menaklukkan pikiran kita kepada pikiran Kristus. (dari buku Potret Kehidupan karya Tony Tedjo)

Kita perlu mewaspadai terhadap adanya bahaya penyesatan yang datang dengan berbagai rupa, seperti tayangan TV yang menayangkan film-film dengan cerita yang seringkali bertentangan dengan firman Tuhan. Kita dituntut untuk berpikir kritis, tidak langsung telan dan menerima begitu saja terhadap berbagai ajaran yang diperhadapkan di depan mata kita.

TAK GENDONG KE MANA-MANA

Suatu kali seorang pemuda bermimpi berada di sebuah tepian pantai. Di sana terhampar pasir putih yang berkilauan terkena sinar matahari. Dalam mimpinya, pemuda tersebut melihat dua buah pasang jejak kaki. Satu pasang jejak kaki adalah miliknya, dan sepasang yang lain milik Tuhan. Dua pasang jejak kaki tersebut berjalan sepanjang tepian pantai putih yang indah itu. Namun, mendadak muncul angin puting beliung menuju ke arah jejak kaki tersebut. Anehnya, sewaktu angin tersebut akan menerpa dua pasang jejak kaki itu, ternyata jejak tersebut malah berkurang menjadi satu pasang jejak kaki saja. Pemuda ini berpikir, sewaktu keadaan tenang, Tuhan selalu bersama-Nya, kok ketika keadaan sedang kritis, malah dia ditinggal sendirian. Beberapa waktu kemudian terdengar suara Tuhan, “sepasang jejak kaki tersebut bukan milikmu, tapi milik-Ku.” Pemuda ini kembali bertanya, “lalu di mana jejak kaki kepunyaanku?” “Jejak kakimu tidak ada lagi, sebab kamu sedang Ku-gendong,” Tuhan kembali menyahut. Dari kisah ini kita belajar bahwa kalau kita berjalan bersama Tuhan, pasti Dia akan menolong kita.
Berjalan bersama Tuhan itu memerlukan kesabaran dan kesetiaan. Jangan memaksakan kehendak kita. Biarkan Tuhan yang menuntun kita ke jalan yang benar, sampai pada finish. Sebab kita yakin bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera yang mendatangkan kebaikan bagi kita (Yeremia 11:29). Sebab bila memaksakan kehendak kita, bisa-bisa untuk sampai ke finish harus memakan waktu puluhan tahun, padahal sebenarnya bila kita menurut saja, perjalanan tersebut hanya memakan setahun atau dua tahun aja. Bukti sejarahnya adalah bangsa Israel.
Bangsa Israel harus berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan selama 40 tahun (Keluaran 13:18; 16:35). Mereka harus berputar-putar terlebih dahulu di padang gurun. Padahal bila dilihat dari jarak yang seharusnya mereka tempuh, perjalanan tersebut paling tidak hanya memakan waktu tidak lebih dari 10 hari. Mengapa mereka harus mengalami hal itu? Supaya mereka benar-benar menyadari bahwa kalau perjalanan mereka berhasil sampai di tempat tujuan, bukanlah karena kekuatan dan kehebatan mereka, melainkan hanya karena anugerah Tuhan saja. Tuhanlah yang memimpin dan menyertai mereka selama berada di padang gurun. Buktinya, kasut (sandal) yang mereka kenakan tidak cepat rusak. Mereka diberi makan manna dan burung puyuh selama 40 tahun oleh Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka air untuk diminum, sehingga mereka tidak kehausan sepanjang perjalanan tersebut.
    Apabila bangsa Israel yang tegar tengkuk itu dibiarkan berjalan hanya menempuh waktu sekitar 10 hari saja, dapat dipastikan bahwa mereka akan sombong. Menganggap jika mereka bisa sampai di Tanah Kanaan adalah karena kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, bukan karena pertolongan Tuhan. Hal ini tidak dikehendaki Tuhan. Maka Tuhan membuat perjalanan bangsa Israel itu menjadi sangat lama, bertujuan untuk merendahkan hati mereka. Sampai mereka benar-benar mengakui kemahakuasaan dan keperkasaan Tuhan atas hidup mereka. Sayangnya, hanya dua orang saja yang bisa sampai di Tanah Kanaan, yakni Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun. Selebihnya, termasuk Musa dan Harus, harus mati di padang gurun.
    Dalam perjalanan hidup kita, penting sekali berjalan bersama Tuhan. Berarti kita harus menanggalkan semua agenda hidup kita dan mengisinya dengan agenda-Nya. Kita harus mengikuti kehendak Tuhan atas hidup kita. Selama kita mengandalkan Tuhan, maka apa saja yang kita kerjakan akan menjadi berhasil (Yeremia 17:7). Contoh nyata adalah Yusuf. Di manapun dia berada, bahkan dalam penjara sekalipun, ketika Tuhan menyertainya, maka kehidupannya menjadi berhasil (Kejadian 39:2, 23; 41:40). Namun ketika mengandalkan kepada kekuatan sendiri, di sinilah awal kehancuran kita (Yeremia 17:5). Contohnya adalah Simson. Di mana dia harus mati tragis, kedua matanya buta (Hakim-hakim 16:23-30). 
    Keputusan kita sekarang sangat menentukan akan menjadi apa kita nanti. Oleh karena itu, sekarang juga putuskanlah agar kita mau berjalan bersama Tuhan dan menyerahkan semua hak yang kita miliki untuk diberikan kepada-Nya. Biarkan Tuhan sendiri yang menuntun jalan hidup kita sampai kepada tempat tujuan akhir. (diambil dari buku Potret Kehidupan karya Tony Tedjo)