Motto: "Mencerdaskan, Memberkati, Menjangkau"

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sejarah Lahirnya Agama Hindu

2.1.1. Latar Belakang India

India dipandang dari sudut ilmu bumi merupakan daerah yang beraneka ragam keadaannya. Beberapa bagian tanahnyabaik sekali untuk ditanami gandum, bagian lain cocok untuk ditanami padi. Tanahnya subur, berupa padang gurun yang luas, dikelilingi pegunungan tinggi yang tertutup salju dan es, dan bersebelahan dengan daerah-daerah yang suhunya sangat panas.
Dipandang dari sudut ilmu bangsa-bangsa, India merupakan daerah dengan beraneka ragam budaya penduduknya. Hal ini dapat terlihat dari agama yang dianut oleh penduduknya. Sekarang ini di India terdapat ratusan agama atau kepercayaan yang dianut oleh rakyatnya. Beberapa di antaranya adalah agama Hindu, agama Budha, agama Sikh, agama Bahai, dan agama Zoroaster.
Sepanjang penyelidikan, sejarah kebudayaan India bermula pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan besar di Mesopotamia dan Mesir. Diperkirakan antara tahun 3000 sM dan 2000 sM, di lembah sungai Sindhu (Indus), telah menetap bangsa-bangsa yang peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Misalnya, berbagai cap yang terbuat dari gading dan tembikar memiliki tanda tulisan dan lukisan binatang, hal ini menceritakan adanya persesuaian dalam peradaban tersebut.
Dalam masa itu, di sepanjang pantai Laut Tengah sampai ke teluk Benggala, terdapat sejenis peradaban yang sama, bahkan meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di kota Harappa, di Punjab, dengan diketemukakannya kota Mohenjodaro.
Penduduk India pada saat itu dikenal sebagai bangsa Dravida. Awal kehadiran mereka bermula tersebar di seluruh negeri, namun lambat laun hanya tinggal di sebelah utara India saja. Mereka menjadi budak dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri tersebut. Ciri-ciri orang Dravida adalah berkulit hitam, berhidung pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting.
Sekitar tahun 2000 sM – 1000 sM masuklah melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu Kush, wilayah India utara, bangsa Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran. Mereka tergolong dalam rumpun bangsa Indo-German.
Setelah tiba di India, mereka menetap di dataran sungai Sindhu, yang pada masa itu merupakan daerah subur. Daerah yang dijumpai orang Arya ini telah memiliki peradaban tua. Bangsa Arya ini berbeda dengan bangsa Dravida. Mereka berkulit putih, berbadan tegap, dan hidungnya melengkung.
Orang-orang Arya memasuki India sampai di tepi sungai Gangga dan di sebelah selatan. Mereka hidup bersama dengan bangsa Dravida, sehingga terjadilah pencampuran dua kebudayaan melalui perkawinan campur. Hasil pencampuran dua kebudayaan ini kemudian membentuk kebudayaan India.
Bangsa Arya terkenal suka berperang, mereka lebih unggul dalam ilmu peperangan dibandingkan bangsa Dravida. Sewaktu bangsa Arya masuk ke India, mereka masih hidup nomad (berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain). Bagi mereka, kuda dan lembu merupakan binatang yang sangat dihargai, sehingga binatang tersebut dianggap suci.
Bila dibandingkan dengan bangsa Dravida yang tinggal di kota dan mengelola pertanian dan perniagaan sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu lebih primitif. Jadi, sebenarnya kebudayaan India lebih banyak dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa Dravida, dibandingkan bangsa Arya. Contohnya, bangsa Dravida telah memiliki banyak patung dewa-dewa yang disembah, sedangkan bangsa Arya belum memilikinya.

2.1.2. Lahirnya Agama Hindu
Sebutan agama Hindu sepertinya berasal dari nama sungai yang sekarang terletak di Pakistan, bernama ”Sindhu”, yang menurut ucapan orang Parsi disebut ”Hindu”. Agama ini merupakan peleburan dari agama asli penduduk Dravida yang sudah tinggi peradabannya. Di India agama ini sering disebut ”Sanata Dharma” (agama yang kekal) atau ”Waidika Dharma” (agama yang berdasarkan atas kitab suci Weda).
Dalam tulisan-tulisan Hindu tua, unsur-unsur Arya lah yang sangat berpengaruh. Hal ini tidak mengherankan, sebab tulisan-tulisan tersebut berasal dari zaman di mana bangsa Arya mengalami kemenangan dalam peperangan melawan bangsa Dravida. Karena banga Dravida menjadi bangsa yang lebih lemah, maka hidup mereka dijajah bangsa Arya. Hal tersebut berpengaruh terhadap kebijaksanaan dan ketetapan yang diberlakukan pada saat itu, oleh bangsa Arya. Dalam tulisan-tulisan terkemudian, lebih banyak pengaruh kebudayaan pra-Arya tua, yang telah mencapai puncak perkembangan tertinggi, ketika bangsa Arya yang lebih rendah peradabannya memasuki India.

2.1.3. Hindu Sebagai Agama
Pada awalnya, agama Hindu pada awalnya bukanlah suatu agama, melainkan sejumlah agama-agama ynag serupa secara garis besar. Lagipula dalam agama Hindu tercantum juga etika, yang termasuk pada agama-agama ini dan akhirnya juga bentuk masyarakat, yang ada hubungannya dengan etika tersebut. Keseluruhan hal ini dinamakan agama Hindu.
Oleh para pemeluknya di India, agama Hindu disebut Sanatana Dharma, artinya agama yang kekal. Sebab para pengikut agama Hindu yakin bahwa agamanya ini tidak terikat oleh zaman. Agama Hindu juga disebut sebagai Waidika-Dharma, artinya agama Weda.
Dalam agama Hindu sangat sulit untuk mengetahui siapa yang menjadi pendiri atau pembawa pertama, hal ini dikarenakan agama ini turun kepada beberapa Maha Rsi dalam jarak waktu ribuan tahun. Jadi, kapan waktu turunnya wahyu, di mana dan bagaimana caranya tidak dapat diketahui dengan pasti.
Menurut paham agama Hindu, wahyu-wahyu itu diterima oleh para Maha Rsi dengan jalan meditasi, yaitu kemampuan menyelamatkan akal pikirannya, sehingga ia disebut Muni. Dengan jalan bertapa melalui beberapa fase di dalam waktu yang lama, untuk dapat melihat kebenaran, dengan ketenangan, perenungan, pandangan yang mendalam dan mendasar, dalam arti mengalihkan kekuatan-kekuatan batin, tenggelam ke dalam penghayatan perenungan yang khusuk.
Menurut kepercayaan umat Hindu, para Rsi atau Muni itu telah ribuan tahun melakukan meditasi untuk memperolah inspirasinya, sehingga mampu menafsirkan dan menjelaskan ajaran agama Hindu secara terperinci. Ada tujuh Maharsi (Sapta Rsi) yang tercatat dan dikenal, yaitu: Maharesi Grtsamada, Maharesi Wismamitra, Maharesi Wamadewa, Maharesi Atri, Maharesi Bharadwaja, Washita dan Maharesi Kanwa atau Rsi Panini.
Dengan adanya perbedaan penafsiran dalam agama Hindu, maka timbul berbagai mazhab filsafa agama (darsana), yaitu para Ghuru atau Acarya. Apa yang mereka lihat, dengar dan ingat, kemudian dikumpulkan kembali menjadi Smrti, seperti kitab-kitab Bhagawadgita, Brahma Sastra dan Manu Dharmasatra (ditulis dalam aksara dan bahasa Sansekerta). Para Rsi dan para pengikut ajaran-ajaran tersebut disebut Arya atau Sista, maksudnya orang-orang yang sangat taat.

2.1.4. Periodisasi Agama Hindu
Dalam perkembangannya, agama Hindu terbagi menjadi lima periode, yaitu: Pertama, masa tumbuh atau masa Weda Samhita, yaitu dimulai sejak datangnya bangsa Arya di daerah Punjab (1500-1000 sM); Kedua, masa pengaruh ajaran Brahmana, di mana dalam pengajarannya lebih mengutamakan upacara korban (1000-750 sM); Ketiga, masa Upanisad, yakni masa penafsiran dan perubahan (750-500 sM); Keempat, masa agama Budha (500 sM-300 M); Kelima, masa berkembangnya ajaran agama Hindu (berlangsung dari abad ketiga hingga sekarang).

Masa Weda Samhita
Agama bangsa Arya dapat diketahui dari kitab-kitab Weda (Weda artinya ”tahu”). Kitab-kitab Weda sendiri sudah ada sejak 1200 tahun sM. Oleh karena itu, masa tertua dari agama Hindu disebut masa Weda Samhita (agama Weda). Dalam masa ini agama Hindu bersifat polytheisme, yakni mempercayai banyak dewa.
Agama Weda dapat dikatakan sebagai agama alam. Artinya dalam mendekati dan menyelami hal kedewasaan, agama ini sangat berfokus pada alam. Seperti nampak dari nama dewa-dewi mereka yang identik dengan gejala-gejala alam. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan bangsa Arya sewaktu mereka memasuki India. Mereka itu merupakan bangsa setengah nomad (selalu berpindah), yang masuk ke India dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka tidak mengenal kekuasaan politik pusat, dan seringkali saling bermusuhan.
India merupakan daerah luas dan sangat berbahaya. Tertutup hutan rimba yang dihuni binatang buas. Bagi orang Arya, orang-orang yang dijumpainya dianggap sebagai orang asing. Mereka harus berjuang melawan manusia dan binatang, serta harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar yang masih asing. Orang Arya berbeda dari logat bahasanya, bentuk badan, wajah, kebudayaan dan tata cara hidupnya dengan penduduk setempat.
Bangsa Arya merasa dikelilingi oleh berbagai daya kekuasaan dan daya kekuatan yang berbahaya. Di mana-mana, di dalam alam dan pergaulan, mereka terserang oleh berbagai daya kekuasaan yang dapat memberi berkat atau kesengsaraan kepada perorangan atau persekutuan. Mereka merasa takut kepada daya kekuasaan atau kekuatan alam yang dapat membinasakan hidupnya. Orang Arya memberi nama kepada daya kekuasaan itu dan menggambarkan daya-daya kekuasaan itu sebagai suatu pribadi. Misalnya: di dalam tanah yang akan diolahnya, berdiamlah ”dewa ladang”; di tanah tempat orang mendirikan rumahnya, berdiam ”dewa tempat tinggal”; pada waktu membajak terdapat ”dewa jalur mata bajak”; demikian pula pada waktu menuai harus ingat kepada ”dewa pengumpul”. Ketangkasan kuda, panas matahari, kekuatan luar biasa pada beberapa orang dan kepatuhan memerintah pada kepala kaum adalah daya-daya kekuasaan yang diberi nama tersendiri.
Orang yang pada waktu senja berada di dalam hutan, dia dianggap telah ditangkap oleh ”dewi rimba”. Hal tersebut menggambarkan bahwa dewa-dewa bangsa Arya itu merupakan bayangan yang sangat kabur. Misalnya, Dewa Indra. Dia digambarkan sebagai seorang laki-laki berjanggut kemerah-merahan yang mabuk dan mengalami kejadian-kejadian aneh. Namun sesungguhnya ia merupakan daya kekuasaan yang kabur dan tidak bisa didefinisikan. Menampakkan diri dalam bentuk taufan, guruh, perang, kekerasan, tetapi juga dalam kesuburan. Dewa Indra dilambangkan sebagai lembu jantan.
Dewa-dewa Weda tidak mempunyai patung-patung dan kuil-kuil, tetapi mereka diam di tempat-tempat di mana daya kekuasaannya terlihat. Kedewasaan itu dirasakan dan dialami manusia dalam alam. Oleh karena itu, bagi orang India dari segala zaman, tetaplah agama merupakan suatu perasaan manusia, yakni di dalam segala hal merasakan adanya seusatu daya kekuasaan yang tidak pernah dapat diraba dan terlihat, tetapi dialami sepenuhnya sebagai suatu kenyataan.
Dalam agama Weda, manusia berusaha menempatkan ”daya-daya kekuasaan” itu di bawah kekuasaannya, agar tidak mendatangkan kerugian, melainkan memberi keselamatan. Dalam usaha pencapaiannya, diadakanlah ritus melalui persembahan korban dan kata-kata (berupa kidung pujian, mantra, dan mite-mite yang dikisahkan) untuk menyenangkan daya-daya kekuasaan tersebut.
Dalam agama Weda, orang tidak mengenal kesalehan dalam arti kata yang sebenarnya. Juga tidak mengenal kesusilaan dalam arti yang sewajarnya. Karena di dalam agama ini sebenarnya tidak ada dewa-dewa yang berpribadi. Perkataan dewa senantiasa hanyalah merupakan suatu daya kekuasaan di dalam gejala-gejala alam saja. Ritus hanyalah sebagai alat teknis untuk menggerakkan daya kekuasaan sedemikian rupa, sehingga daya kekuasaan tersebut mendatangkan keselamatan kepada manusia. Dosa atau kesalahan di dalam agama Weda mempunyai arti suatu sikap yang menyalahi tata tertib alam. Dosa bagi mereka adalah terganggunya ketertiban tetap yang ada di dalam segala sesuatu.
Dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur dasar yang ada dalam agama Weda, yaitu: Satu, percaya dan takut kepada daya-daya kekuasaan; Dua, ritus untuk mempengaruhi daya-daya kekuasaan; Tiga, kesadaran akan adanya tata tertib kosmos; Empat, kecenderungan kepada mistik.

Masa Brahmana
Ketika kitab-kitab Weda itu sudah tidak dapat dimengerti lagi, maka para Brahmana membuat tafsiran-tafsiran dari kitab tersebut, yaitu kitab-kitab Sutra (kitab penuntun), dan kitab-kitab Dharmasastra (kitab-kitab hukum). Kitab-kitab tersebut ditulis antara tahun 800-500 sM.
Golongan kaum Brahmana memberikan perkembangan baru dalam agama Weda. Perkembangan ini dapat disebut sebagai pengukuhan kekuasaan golongan Brahmana. Perkembangan ini mempengaruhi dan mengubah bentuk seluruh tatanan dalam agama Weda.
Karena banyak orang tidak lagi memahami kitab-kitab Weda, maka para Brahmana mengambil inisiatif untuk menafsirkan sendiri isi dari kitab Weda tersebut menurut kehendak mereka. Tentunya inisiatif para Brahmana ini sangat baik. Namun, di balik itu para Brahmana itu bermaksud memperkokoh kedudukan mereka di antara rakyat, sehingga tidak seorang pun yang meragukan kekuasaan mereka, disebabkan kedekatan hubungan mereka dengan para dewa.
Oleh karena hanya kaum Brahmana saja yang dapat mengetahui isi dari Kitab Weda, maka hanyya merekalah satu-satunya orang yang tahu mengenai upacara-upacara persembahan dan seluk-beluknya. Sebab, bila menyimpang sekecil apapun dari peraturan yang sudah ditetapkan, akan berakibat pada kesia-siaan dalam upacara mereka. Lagipula, para Brahmanalah yang memiliki kekuasaan untuk memaksa dewa menampakkan diri di dalam api persembahan. Seperti yang nampak dalam kutipan salah seorang Brahmana sebagai berikut:
“Ada dua macam dewa, yakni dewa-dewa dan para Brahmana yang terpelajar dan mengajar adalah dewa-dewa insani. Persembahan-persembahan dibagi antara kedua macam dewa itu: Persembahan-persembahan untuk para dewa, pemberian-pemberian untuk dewa para dewa insani, ialah para Brahmana, pandita-pandita yang terpelajar dan yang mengajar itu; dengan persembahan itu manusia membuat senang para dewa, dengan pemberian-pemberian ia menyenangkan para dewa insani (para Brahmana), pandita-pandita yang terpelajar dan yang mengajar kedua jenis dewa itu, jika mereka merasa puas akan memberi manusia merasakan kebahagiaan surga.“

Masa Upanisad
Pada masa ini kepercayaan kepada kekuasaan pengetahuan yang lebih tinggi (jnana) besar pengaruhnya. Kekuasaan pengetahuan ini harus dijadikan kenyataan dengan melakukan ritus atau upacara. Sehingga tidak mengherankan apabila pada masa Upanisad mempunyai lebih banyak pengikut di antara para Ksatria, daripada golonngan Brahmana. Masa Upanisad amat mementingkan pengetahuan batiniah dan filsafat yang tinggi. Pemujaan kepada Tuhan sebagai Trimurti menjadi hal yang umum dalam masa Upanisad ini.
Barangkali Upanisad-upanisad tersebut ditulis antara tahun 600-300 sM. Kata Upanisad diturunkan dari kata upa dan ni, artinya ”dekat, didekatnya”; dan dari sad ”duduk dekat”. Maksud pernyataan tersebut adalah duduk di dekat seorang guru, untuk menerima pandangan atau pengetahuan daripadanya.
Upanisad-upanisad itu termasuk naskkah-naskah (tulisan-tulisan) yang sangat dalam isinya dibandingkan dengan kesusasteraan lainnya di dunia. Orang Hindu, termasuk Hindu modern, memandang Upanisad sebagai tulisan-tulisan ilahi. Sampai kini sebenarnya tidak ada aliran rohani satupun di India yang dapat terlepas dari pengaruh kitab-kitab tersebut.
Upanisad-upanisad yang termasyur antara lain Upanisad Chandogya dan Kathaka-Upanisad. Sebagian besar Kitab Upanisad itu berisi percakapan antara dua orang Brahmana.

Masa Agama Budha
Pada masa agama Budha, ajaran dari Kitab Weda lebih banyak dipengaruhi oleh penafsiran Sidharta Gautama. Pengajaran-pengajaran dari pendiri agama Budha ini telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pengajaran agama Hindu. Pada masa inilah mulai dikembangkannya istilah logika, yoga, dan samadhi.

Masa Berkembangnya Agama Hindu
Agama Hindu setelah abad ketiga mengalami perkembangan yang cukup berarti. Dalam perkembangannya, agama ini mengalami perubahan, baik penambahan maupun pengurangan mengenai hal para dewa atau upacara-upacara. Pada masa perkembangannya, agama Hindu dikenal dengan konsep Trimurti.
Sebagai upaya menjaring pengikut yang lebih banyak dan luas lagi, para pewarta ajaran Hindu muncul dengan format atau wajah baru. Di mana dalam masa ini yang lebih ditonjolkan adalah yoga (meditasi) dan pengobatan alternatif. Salah satu bentuk yang berkembang pada dasawarsa ini adalah pengajaran Transendental Meditation (yoga) yang diajarkan oleh Maharesi Anand Krisna.
(Dapatkan informasi lebih jauh mengenai Agama Hindu, dalam buku Mengenal Agama Hindu, Buddha, Khong Hu Cu karya Tony Tedjo, M.Th. Harga Rp30.000. Pesan ke 081394401799 ada diskon 20%).

Kamis, 20 Oktober 2011

Pertanyaan Praktis Iman Kristen

1. Apakah Allah itu ada?
• Allah itu benar-benar ada. Sebagai bukti bahwa Allah ada adalah adanya manusia, hewan, binatang, tumbuh-tumbuhan, cakrawala, bulan, dan bintang (Mazmur 19:2; Roma 1:20). Adanya hujan, musim, dan peredaran waktu yang berjalan dengan teratur, membuktikan adanya Allah (Kisah Para Rasul 14:15, 17). Adanya kehidupan, menandakan bahwa adanya si pencipta (Allah), yang memberikan kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan itu tidak mungkin ada dengan sendirinya. Manusia bisa menciptakan robot, tetapi manusia tidak bisa memberikan nafas hidup ke dalam dirinya. Hanya Allah sajalah yang mampu melakukannya.

• Untuk mempercayai Allah yang tidak kelihatan, diperlukan iman (Ibrani 11:6). Jika kita percaya, maka kita akan melihat kemuliaan Allah (Yohanes 11:40). ”Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi” (Hosea 6:3).

• Alkitab dimulai dengan perkataan ”pada mulanya Allah” (Kejadian 1:1; Yohanes 1:1-3) yang menandakan bahwa permulaan dari alam semesta beserta isinya adalah Allah. Orang yang berkata bahwa Allah itu tidak ada adalah orang yang tidak pernah menyadari bahwa dirinya ada saat ini karena Allah yang menciptakannya. Alkitab mengatakan bahwa orang yang demikian adalah orang bebal (Mazmur 14:1b dan 53:2a). Hanya orang angkuh yang tidak mempedulikan Allah (Mazmur 54:5).

• Orang ateis adalah mereka yang percaya bahwa Allah tidak ada. Orang ateis tidak percaya bahwa Allah menciptakan manusia. Sebaliknya, mereka percaya bahwa manusialah yang menciptakan gagasan tentang Allah.

2. Apakah Allah memiliki tangan, mata, kaki, atau telinga?
• Allah tidak memiliki tangan, kaki, atau telinga, karena Dia adalah Roh (Yohanes 4:24; 2 Korintus 3:17). Roh tidak berdaging dan tidak bertulang (Lukas 24:39).

• Pernyataan seperti ”tangan Tuhan” (Hakim-hakim 2:15; 1 Samuel 5:6; 2 Samuel 24:14; 1 Tawarikh 21:13; Yesaya 59:1; Kisah Para Rasul 11:21; 13:11), ”tangan Allah” (Keluaran 8:19; Ezra 8:22; Ayub 12:9; 19:21; Pengkhotbah 9:1), ”tangan-Mu” (Mazmur 119:73; 139:10), ”mata Tuhan” (Ulangan 11:12; 2 Tawarikh 16:9; Mazmur 33:18; Amsal 15:3; Zakharia 4:10), ”kaki-Nya” (Wahyu 1:15), ”telinga Tuhan” (Yakobus 5:4), ”Aku telah turun” (Keluaran 3:8). Semua itu menyatakan bahwaa Allah dianggap seolah-olah memiliki anggota tubuh seperti manusia, agar mereka mengenal Allah lebih dekat.

3. Allah seringkali disebut sebagai Yehova Jireh, Yehova Rafa, Yehova Syalom, dan sebagainya. Arti dari sebutan itu sendiri apa?
• Yehova Jireh: Tuhan akan mencukupkan (Kejadian 22:14).
• Yehova Rafa: Tuhan adalah penyembuh (Keluaran 15:26).
• Yehova Nissi: Tuhan adalah pemenang (Keluaran 17:15).
• Yehova Syalom: Tuhan adalah keselamatanku (Hakim-hakim 6:24).
• Yehova Raah: Tuhan adalah gembalaku (Mazmur 23:1).
• Yehova Tsidkenu: Tuhan adalah kebenaran kami (Yeremia 23:6).
• Yehova Syemmah: Tuhan menyertai (Yehezkiel 48:35).
• Yehova Tsebhaoth: Tuhan semesta alam (Mazmur 24:10).
• El-Shadai: Allah yang Mahakuasa (Kejadian 17:1; Wahyu 4:8).
• El-Elyon: Allah yang Mahatinggi (Kejadian 14:18-20; Yesaya 14:14).
• El-Gibor: Allah yang Perkasa (Keluaran 7:11).
• Adonai: Allah Penjaga dan Pembela (Yesaya 6:1; Mazmur 35:23).
• Elohim: Allah Pencipta (Kejadian 1:26, 31).
• Yahweh/Yehova: Tuhan, Allah yang kekal yang sudah ada, yang ada dan yang akan datang (1 Yohanes 1:1-2, 14).

4. Apakah benar bahwa Allah memiliki ciri-ciri psikologis seperti yang dimiliki manusia?
• Benar. Allah memiliki ciri-ciri psikologis yang sama dengan manusia, seperti intelek (Kejadian 18:19; Keluaran 3:7; Kisah Para Rasul 15:18); perasaan (Kejadian 6:6; Mazmur 103:8-14; Yohanes 3:16), dan kemauan (Kejadian 3:15; Mazmur 115:3; Yohanes 6:38).

• Allah juga ditampilkan dapat berbicara (Kejadian 1:3), melihat (Kejadian 11:5), mendengar (Mazmur 94:9), berduka (Kejadian 6:6), menyesal (Kejadian 6:6), marah (Ulangan 1:37), cemburu (Keluaran 20:5), dan iba (Mazmur 111:4).

5. Benarkah Allahnya orang Kristen ada tiga?
• Tidak benar. Orang Kristen hanya percaya satu Allah saja (monotheisme).

• Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus adalah Allah yang Esa (Ulangan 6:4). Satu yang jamak. Di mana masing-masing memiliki pribadi dan tugasnya sendiri.

• Perhitungan matematika menurut manusia itu 1+1+1= 3. Tapi perhitungan matematika Allah adalah 1x1x1= 1. Jadi, meski 1 –nya ada 3, tetap saja 1.

• Sebutan Allah Bapa dan Allah Anak tidak berarti menandakan bahwa Allah itu punya bapa dan anak. Sebab Allah dalam ajaran Kristen tidak sama dengan allah-allah agama lain. Sebutan bapa dan anak tersebut hanyalah untuk menunjukkan identitas Allah.

• Allah itu Esa (Ulangan 4:35; 6:4; Yesaya 45:5; Zakharia 14:9; Markus 12:29-32; Yohanes 17:3; 1 Korintus 8:4-6; Efesus 4:4-6; 1 Timotius 2:5).

6. Apakah Allah dalam Perjanjian Lama (PL) berbeda dengan Allah dalam Perjanjian Baru (PB)?
• Allah tetap sama, baik dalam PL maupun dalam PB. Memang, sepertinya Allah dalam PL terkesan lebih sadis dibandingkan dengan Allah dalam PB yang terkesan penuh kasih. Namun, sebenarnya Allah yang sama baik dalam PL maupun PB.

• Ajaran yang mengatakan bahwa Allah dalam PL tidak sama dengan Allah dalam PB merupakan ajaran Marcion, seorang pengajar sesat. Ajarannya menyatakan bahwa kitab PL mengajarkan Allah sebagai pencipta langit dan bumi, Allah sebagai Hakim, Allah yang murka dan gemar berperang, dan tidak mengenal kasih. Sedangkan Allah dalam PB yang diajarkan oleh Yesus Kristus, merupakan Allah yang memiliki kasih dan murah hati.

• Allah yang kita kenal di dalam Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini, dan sampai selamanya (Ibrani 13:8). Allah tidak berubah (Ayub 23:13; Maleakhi 3:6).

7. Apakah Allah itu berjenis kelamin? Mengapa kok dikatakan Bapa?
• Allah itu Roh, tidak mempunyai kelamin.

• Sebutan Bapa hanya untuk menandakan kedekatan hubungan antara Allah dan kita, seperti seorang ayah kepada anaknya (Mazmur 103:13; Yesaya 63:16; Yeremia 31:9). Setiap orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12) dan layak menyebut Allah dengan sebutan Bapa (Roma 8:15; Galatia 4:6).

• Allah itu dalam peran-Nya di dunia tidak hanya memiliki sifat-sifat seorang bapak, yaitu: melindungi, menjaga, disiplin, pembela, dan sebagainya; tetapi memiliki sifat-sifat seorang ibu juga, seperti: menghibur, membimbing, merawat, mengasihi dan sebagainya. Hanya saja, yang lebih ditonjolkan adalah sifat-sifat seorang bapak, sehingga dikatakan Bapa.

• Sifat-sifat seorang bapa: Asal-usul, kita semua berasal dari ayah kita. Apabila sesuatu hal diketemukan oleh orang pertama kali, maka kita biasa menyebut orang tersebut dengan sebutan”bapak atau bapa.” Misalnya: Thomas Alfa Edison disebut sebagai ”bapa lampu listrik”; George Washington disebut ”bapa Amerika Serikat”; pemimpin gereja mula-mula disebut ”bapa-bapa gereja.” Kepribadian seorang bapa adalah seorang pribadi yang nyata. Ia berpikir, mengasihi, bekerja, dan mengutarakan isi hatinya kepada orang lain.
(Diambil dari buku ANDA BERTANYA SAYA MENJAWAB: 101 Tanya-Jawab PRaktis Seputar Pokok Iman Kristen, karya Pdp. Tony Tedjo, M.Th. Buku ini dapat dipesan ke 081394401799, dapatkan diskon 20%-30%).

SEKOLAH MENULIS ALKITABIAH (SOW)

PROGRAM SERTIFIKAT ANGKATAN KE-2
Motto: Mencerdaskan, Memberkati, Menjangkau“


SOW mengadakan Program Sertifikat dengan materi LITERATUR dan ALKITAB: MENYUSUN KATA-KATA MERANGKAI KALIMAT, MENGATASI HAMBATAN MENULIS, MENULIS BUKU, MENULIS RENUNGAN, MENULIS BIOGRAFI, MENULIS CERPEN, SENI PENYUNTINGAN, MANAJEMEN PENERBITAN BUKU, STRATEGI PEMASARAN, PEMBIMBING PL, PEMBIMBING PB, STUDI TENTANG ALLAH DAN ROH KUDUS, STUDI TENTANG KRISTUS DAN KESELAMATAN, STUDI TENTANG AKHIR ZAMAN.

PENGAJAR:
Pdp. Tony Tedjo, S.Th., M.Th.; Johny Tedjo, S.Th.; Agus Nugroho, S.Th., M.PdK; Gideon Limandibrata, S.Th., M.Th., D.Min; Pdm. Toto Somali, S.Th., MA; Parel, S.Th.

BIAYA:
Biaya Pendaftaran Rp100.000; Biaya Pendidikan Rp2.000.000 (bisa dicicil 3x).
FASILITAS:
Setiap peserta akan mendapatkan: Member Card, Makalah, Makan Malam, Paket Buku Agape, Sertifikat, Konsultasi Gratis Penerbitan.

Kelas akan dimulai 3 Februari 2012 hingga 20 Juli 2012 (24x pertemuan). Belajar tiap JUMAT, jam 17.00-20.00 WIB. Kelas dibatasi HANYA 20 ORANG. Pendaftaran 081394401799 atau tonytedjo@gmail.com. www.sekolahmenulisalkitabiah.blogspot.com dan www.agapemedia.blogspot.com.