Motto: "Mencerdaskan, Memberkati, Menjangkau"

Rabu, 18 September 2013

BERKELIMPAHAN ATAU HEDONISME

Hedonisme Dewasa ini orang terjerumus dengan sifat hedonisme, yaitu suatu filosofi pandangan hidup yang beranggapan bahwa seseorang dapat berbahagia apabila mencari dan mendapatkan kebahagiaan sebanyak mungkin, serta sebisa mungkin menghindari hal-hal yang menyakitkan. Kata hedonisme sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu hedonismos dari akar kata hedone, yang berarti ’kesenangan.’ Para penganut hedonisme memiliki tujuan hidup untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan bagi tubuhnya. Dengan pemikiran seperti ini, maka manusia rela diperbudak oleh hedonisme, dengan menyerahkan jiwa dan raganya. Bahkan, sebagian orang ”memuja”-nya dan menjadikan hedonisme sebagai ”tuhan”. Contoh nyata terdapat dalam Lukas 12:19 mengenai kisah orang kaya yang bodoh. Dia merasa bahwa telah memiliki harta yang berlimpah-limpah, oleh karena itu hendak dihabiskan dengan makan-minum dan bersenang-senang. Kisah perumpamaan anak yang hilang juga di mana dia lebih menyukai pesta pora, sehingga mengakibatkan hidupnya melarat (Luk. 15:13-14). Kenikmatan atau kesenangan yang diperoleh mereka hanyalah bersifat sementara, dan dapat berubah oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Orang-orang yang memiliki pandangan hidup hedonisme sebenarnya sadar atau tidak disadari, sedang terjerat dan diperbudak oleh dunia ini. Mereka hanya hidup menuruti keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Padahal dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya (Gal. 2:16-17a). Tuhan tidak pernah menghendaki agar anak-anak-Nya terjerat dan diperbudak oleh dunia ini dan segala kenikmatannya. Yesus sendiri tidak terpikat oleh bujuk rayu iblis yang menggoda-Nya setelah Dia berpuasa 40 hari dan 40 malam. Ketika iblis menawarkan berbagai kenikmatan dan gemerlapnya dunia ini, Yesus menolaknya. Dia malah menghardik iblis (Mat. 4:1, 2, 8, 9, 10). Yesus menang terhadap godaan kenikmatan dan kesenangan dunia. Tuhan tidak mengajarkan agar anak-anak Tuhan hidup hedonisme. ”Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka ...” (2Pet. 2:13b). ”Sebab keinginan daging adalah maut. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rom. 8:6a, 8). Ada perbedaan khusus antara hidup berkelimpahan dengan hedonisme. Hidup berkelimpahan itu sesuai dengan firman Tuhan, sedangkan hedonisme bertentangan dengan firman Tuhan. Hidup Berkelimpahan Alkitab mengajarkan bahwa kita yang hidup di dalam Kristus akan diberikan hidup yang berkelimpahan. “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10b). Tuhan menjanjikan bahwa kehidupan setiap anak-anak Tuhan yang tetap melekat kepada-Nya akan diberikan hidup yang berkelimpahan. Hidup yang berkelimpahan tidak hanya dipahami secara materi dengan banyaknya kekayaan dan harta benda. Meskipun Alkitab mencatat banyak tokoh Alkitab yang hidupnya kaya raya. Beberapa tokoh Alkitab yang tercatat hidupnya sangat kaya, antara lain: Memiliki harta berlimpah tidaklah berdosa. Allah justru memberkati umat-Nya agar mendapatkan hidup berkelimpahan, supaya mereka menjadi saluran berkat bagi sesama yang memerlukan dan untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Alkitab mencatat beberapa tokoh Alkitab yang hidupnya melimpah dengan kekayaan. Para tokoh Alkitab tersebut antara lain: - Abraham. Kejadian 13:2 mencatat bahwa Abraham itu sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Belum lagi ditambah dengan budak-budaknya yang banyak. - Ishak. Kejadian 26:12-13 mencatat bahwa Ishak menjadi orang yang sangat kaya. Kekayaan Ishak sangat berlimpah sehingga membuat iri orang Filistin. - Daud. Daud merupakan tokoh Alkitab yang sangat kaya. Selama 40 tahun memerintah sebagai raja atas bangsa Israel dan Yehuda, tentu dia punya harta yang melimpah. Salah satu buktinya adalah sewaktu pengumpulan bahan-bahan untuk membangun Bait Allah yang akan dikerjakan oleh Salomo, anaknya. Alkitab mencatat untuk dana pembangunan Bait Suci saja, Daud telah mengumpulkan 5.000 talenta emas (170.000 kg atau Rp51 milyar), dan 10.000 dirham (80.000 gram atau Rp24 milyar), 10.000 talenta perak (340.000 kg atau Rp68 milyar), 18.000 talenta tembaga (612.000 kg atau Rp61,2 milyar), serta 100.000 talenta besi (3,4 juta kg atau Rp170 milyar) dengan total keseluruhan dari bahan-bahan ini saja sudah mencapai Rp374,2 milyar. Belum lagi ditambah dengan batu permata dan bahan-bahan dari kayu. - Salomo. Salomo merupakan raja paling kaya di dunia. Penghasilannya dalam setahun lebih dari 666 talenta emas atau Rp6.793.200.000. Punya 4.000 kandang kuda dan keretanya, 12.000 orang berkuda, bahkan pada zaman Salomo banyaknya perak sama seperti batu dan banyaknya pohon kayu aras sama seperti pohon ara yang tumbuh di Daerah Bukit (2Taw. 9:13, 14, 25, 26, 27). - Ayub. Ayub merupakan orang terkaya pada zamannya. Ia memiliki 7.000 ekor kambing domba, 500 keledai betina, dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar (Ayub 1:3). Kekayaannya diperkirakan mencapai Rp50 milyar lebih. Hidup yang berkelimpahan itu meliputi sehat, kaya, bahagia, dan selamat. Orang berusaha mendapatkan kesehatan dengan cara berolah raga secara teratur dan menjaga diet tubuh dengan makan suplemen maupun makanan bergizi. Orang berusaha mendapatkan kekayaan dengan bekerja keras bekerja pagi hingga larut malam. Orang juga mencari kebagiaan dengan berbagai cara, seperti: Memiliki isteri lebih dari satu, selalu makan makanan yang mewah, memiliki rumah megah seperti istana, bisnisnya melaju pesat, memiliki anak-anak yang cantik dan ganteng, serta hal lainnya. Namun, bila seseorang sudah memiliki kesehatan, kekayaan, hidupnya bahagia, belum tentu akan selamat di kehidupan sesudah kematian nanti. Itulah sebabnya, setiap orang pasti memerlukan keselamatan. Keselamatan tidak dapat diperoleh dengan cara apapun atas usaha sendiri, melainkan hanya karena anugerah Tuhan Yesus semata. Di mana keselamatan diberikan secara cuma-cuma bagi mereka yang percaya dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Mental Kelimpahan Orang yang tidak memiliki mental kelimpahan selalu berpikiran untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri alias egois. Yang penting segala kebutuhannya terpenuhi dahulu baru memikirkan orang lain. Orang yang punya mental kelimpahan memiliki rasa puas. Ada banyak orang yang selalu merasa berkekurangan, meski menurut ukuran manusia, orang tersebut sudah memiliki segalanya, tetapi tetap saja dia merasakan kurang puas. Sehingga tidak pernah mau berbagi dengan saudara seiman yang berkekurangan maupun dengan orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan. Orang yang sadar bahwa hidupnya berkelimpahan, pasti menyadari bahwa semua kekayaan yang dimiliki olehnya merupakan harta titipan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Sehingga dia tidak menjadi sombong dan takabur. Melainkan tetap rendah hati dan memiliki sikap perduli terhadap sesama. Apabila harta yang dipercayakan Tuhan kepadanya diambil kembali, orang ini tidak akan frustasi dan depresi. Sebab hatinya tidak terikat kepada harta tersebut. Namun sayangnya, ada banyak orang-orang kaya yang hatinya terikat kepada hartanya, sehingga menjadikan harta tersebut sebagai ”tuhan.” Kita harus mengumpulkan harta di sorga (Mat. 6:20). Mengumpulkan harta di sorga berarti kita harus memperbanyak dalam memberikan bantuan terhadap pekerjaan Tuhan, baik terhadap pembangunan gereja, membantu para hamba Tuhan maupun guru-guru sekolah teologi, mendukung pelayanan misi gereja dalam rangka pemberitaan Injil, membantu orang miskin melalui pelayanan diakonia, dan lain sebagainya. Namun di atas semuanya itu, kita harus tetap fokus kepada Tuhan Yesus. Sebab bila kita diberi hidup berkelimpahan itu semua karena Tuhan Yesus sudah menebus dosa-dosa kita di kayu salib dan mengangkat kita menjadi orang merdeka. Kita tidak lagi hidup di dalam kegelapan, tetapi telah dipindahkan kepada terang-Nya yang ajaib. Tuhan Yesus memberkati. *Tony Tedjo, M.Th adalah mahasiswa tingkat akhir program doktoral di Harvest International Theological Seminary (HITS), dosen di STT Kharisma Bandung, penulis buku, ketua redaksi Renungan Kabar Baik.

ANAK MENIRU ORANGTUA

Kita seringkali mendengar nasehat orangtua yang mengatakan, ”Nak, kamu tidak boleh merokok ya karena merokok itu racun, dapat merusak paru-parumu.” Anak ini mengangguk pertanda menyetujui nasehat orangtuanya. Beberapa menit kemudian, ayah anak ini mengambil sebatang rokok dari saku bajunya dan menyulutnya memakai korek api. Tanpa disengaja si anak melihat apa yang baru saja diperbuat ayahnya. Peristiwa yang baru saja dilihatnya membentuk pola berpikir yang salah dalam diri anak. Anggapannya, merokok itu memang berbahaya, tetapi bila kamu menyukainya maka merokok diperbolehkan. Buktinya adalah ayahnya sendiri yang sudah mengetahui bahwa merokok itu dapat merusak paru-parunya, namun masih tetap merokok. Harusnya sang ayah tidak boleh merokok juga, eh malah dia sendiri juga merokok. Tak heran, ketika si anak masih di SMP sudah merokok. Si anak merokok bukan karena diajarkan, melainkan karena meniru orangtuanya. Orangtua malah jadi teladan yang buruk bagi anak-anaknya. Hal demikian tidak boleh terjadi atas hidup kita. Orangtua menghendaki agar anak-anaknya menjadi orang baik dan sukses di kemudian hari. Namun, seringkali apa yang diajarkan oleh orangtua kepada anak-anaknya justru dilanggar oleh orangtua itu sendiri. Sehingga si anak bukannya menuruti nasehat orangtuanya, malah menuruti apa yang diperbuat orangtuanya. Akibatnya, segala kebiasaan buruk yang diperbuat orangtua, ditiru oleh anak-anaknya. Raja Daud merupakan seorang raja besar yang telah menjabat sebagai raja selama 40 tahun di Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel. Ada banyak hal positif yang diperbuat Daud semasa hidupnya yang menyukakan hati Tuhan. Hal ini membuat Tuhan membawa Daud mengalami kemenangan demi kemenangan terhadap setiap peperangan melawan musuh-musuhnya. Tetapi sangat disayangkan, dibalik kesuksesan tersebut Daud memiliki kegagalan. Beberapa kegagalan yang dicatat dalam Alkitab antara lain: Pertama, Daud mempraktekkan poligami, dengan memperisteri lebih dari satu orang; Kedua, Daud banyak melakukan penumpahan darah, sehingga dia tidak diperkenan Tuhan untuk membangun Bait Allah; Ketiga, Daud tidak dapat mengatur keluarganya dengan baik, terbukti anaknya yang bernama Absalom memberontak kepadanya dengan merebut kerajaan dari Daud; Keempat, Daud tidak mengajarkan kepada anak-anaknya untuk hidup takut akan Tuhan. Hal ini membuat anak-anak Daud dari isteri-isterinya cenderung hidup seenaknya tanpa memiliki rasa hormat kepada Tuhan. Sikap buruk tersebut rupanya ditiru oleh Salomo, anak Daud dari Batsyeba. Padahal Salomo merupakan pewaris tahta kerajaan Daud. Raja Salomo juga mempraktekkan poligami dengan memiliki 300 isteri dan 700 gundik. Meskipun Salomo tidak melakukan peperangan seperti Daud, tetapi kehidupannya kacau balau. Keturunan Salomo tidak tercatat dalam Alkitab. Kerajaannya terpecah dua setelah dipegang oleh anaknya yang bernama Rehabeam. Kemudian Salomo hidup menduakan Tuhan, dengan mengijinkan dan memperaktekkan penyembahan berhala di sepanjang hidupnya. Hal ini sangat disesalkan. Contoh kehidupan Daud yang ditiru oleh Salomo membawa kerugian yang berujung pada kehancuran. Kerajaan Israel yang dipimpin oleh cucu Daud, bernama Raja Rehabeam, harus terpecah dua. Kerajaan Daud tidak lagi langgeng, melainkan harus mengalami jatuh bangun, sampai akhirnya mereka harus dibuang ke Kerajaan Babel. Peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan dan etika yang baik kepada anak-anaknya sangat penting. Sebab bila orangtua tidak perduli dan mengabaikan untuk mengajarkan hal-hal yang positif dan baik kepada anak-anak, maka Tentu saja orangtua harus memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya dengan menunjukkan sikap, tutur kata, dan tindakan yang sopan serta penuh integritas. Tidak sekadar kata-kata, melainkan disertai dengan tindakan. Supaya anak-anak bisa menerima nasehat kita dan mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Sebab kita pun berbuat sesuai dengan nasehat yang diberikan kepada anak-anak kita. Sehingga orangtua dapat menjadi teladan bagi anak-cucunya di kemudian hari. Rasul Paulus menasehati kepada ”anak-anak rohaninya” untuk menuruti teladannya. ”Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (Fil. 3:17). *Penulis menjadi Pendiri dan Ketua School Of Writing (SOW), Ketua Redaksi Renungan Kabar Baik, Penulis 11 buku, Dosen di STT KHARISMA, dan Konsultan Penerbitan. Dapat dihubungi di tonytedjo@gmail.com.

WASPADAI BAHAYA MENGANTUK

Menurut medis, setiap manusia dianjurkan untuk tidur selama 8 jam. Ketentuan ini tidak mengikat. Bagi sebagian orang yang sibuk dalam pekerjaan, mereka hanya dapat beristirahat 3-5 jam saja. Mereka tidur antara jam 23.00-24.00 dan bangun jam 04.00-05.00. Dampak seseorang yang waktu tidurnya kurang akan membuat stamina tubuh orang bersangkutan menurun, sehingga mengurangi efektifitas kerja disebabkan tidak bisa berkonsentrasi. Dampak mengantuk dirasakan oleh seorang pemudi yang bekerja shift malam di sebuah pabrik. Meski hanya dalam hitungan menit, ketika pemudi ini tidak menyadari bahwa tangannya masuk ke dalam mesin potong. Pada Juli 2012 lalu di Blagoveshchensk, Rusia, seorang hakim bernama Yevhgeny Makhno, tertangkap kamera sedang mengantuk dan tertidur saat memimpin persidangan. Awalnya, hakim Makhno terlihat mengangguk saat pengacara terdakwa menyampaikan argumen dalam persidangan. Beberapa saat kemudian, Makhno terlihat sudah mengubah posisi duduknya. Dia duduk dengan posisi merosot di kursi dengan kepalanya disandarkan di salah satu sisi kursi. Ketika video ini diunduh pada Januari 2013 lalu, publik marah dengan tingkah laku sang hakim tersebut. Sehingga akhirnya hakim Makhno mengundurkan diri dari jabatannya sebagai hakim. Dalam Kisah Para Rasul 20:9-12 mencatat kisah seorang pemuda bernama Eutikhus yang terjatuh dari tingkat ketiga ke bawah dan mati disebabkan karena mengantuk. Dikarenakan terlalu asyik duduk di pinggir jendela, sehingga pemuda ini mengantuk. Bukannya mendengarkan khotbah Rasul Paulus, malah dia tertidur. Tanpa disadari, tubuhnya terjatuh dari ketinggian tingkat tiga, sehingga meninggal. Beruntung Rasul Paulus segera menolong dan mendoakannya. Pemuda ini pun hidup kembali. Dampak mengantuk secara jasmani sangat merugikan, apalagi bila seseorang ”mengantuk” rohaninya. Tentu akan membawa kerugian yang sangat besar. Orang-orang yang rohaninya “mengantuk” akan mudah menyerah saat himpitan dan tekanan hidup menekannya. Dia akan mudah menyerah pada keadaan sekelilingnya. Contoh di lapangan, berapa banyak anak-anak Tuhan, bahkan hamba-hamba Tuhan yang imannya digadaikan hanya demi mendapatkan cinta seorang gadis, kedudukan yang menjanjikan, proyek bisnis yang besar, popularitas, dan sederet hal lain yang sepertinya menguntungkan. Mereka tidak hanya kedapatan sudah tidak melayani pekerjaan Tuhan, malah sudah tidak ke gereja karena sudah berpindah keyakinan. Sebagai orang percaya tentunya tidak akan membiarkan rohaninya “mengantuk.” Itulah sebabnya, perlu untuk melakukan hal berikut supaya tidak mengantuk: Pertama, cukup membaca Alkitab setiap hari secara konsisten. Lebih baik membaca Alkitab dua pasal setiap hari secara rutin, daripada membaca Alkitab sepuluh pasal hanya seminggu sekali. Sebab, membaca Alkitab itu diibaratkan ”makan” untuk memenuhi kebutuhan bagi roh kita. Tanpa ”makanan” yang cukup bagi roh kita, maka dapat menyebabkan roh kita sakit, dan bila tidak segera diobati akan mati rohani. Orang-orang yang sudah mati rohaninya tidak akan memiliki kegairahan lagi terhadap kegiatan rohani, seperti ibadah. Kedua, cukup mendapatkan oksigen agar tetap segar. Doa merupakan ”oksigen” bagi rohani kita. Tanpa doa yang cukup, maka rohani kita akan lemas dan bila kehabisan oksigen dapat berakibat pada kematian. Sediakan waktu khusus untuk berdoa. Doa bukanlah suatu paksaan atau formalitas belaka. Dengan banyak berdoa, kita akan merasakan kesegaran atas rohani kita. Sehingga tidak mudah takut serta kuatir menjalani hidup di dunia yang bertambah jahat ini. Ketiga, cukup beribadah. I Timotius 4:8 menuliskan bahwa ibadah itu mengandung janji, baik untuk hidup masa kini maupun untuk hidup yang akan datang. Dengan secara rutin mengikuti ibadah di gereja, baik ibadah raya pada hari Minggu maupun ibadah-ibadah kategorial lainnya seperti kaum wanita, kaum pria, pemuda, maupun ibadah pasangan suami isteri. Sewaktu beribadah, maka kita akan saling menguatkan. Entah kita yang menguatkan saudara seiman lain, ataukah malah kita yang dikuatkan oleh orang lain. Janganlah kita meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah kita (Ibr. 10:25). Keempat, cukup memberitakan Injil melalui bersaksi. Menyaksikan segala kebaikan Tuhan yang sudah dialami kepada orang lain akan membawa banyak keuntungan bagi kita. Pada waktu sedang menyaksikan kebaikan Tuhan, berarti sedang bersyukur atas segala berkat dan kebaikan-Nya terhadap kita. Tentunya dengan bersaksi akan menguatkan dan memotivasi orang lain untuk bangkit dari persoalan dan kesusahan yang sedang dia hadapi. Mengantuk merupakan bahaya yang seringkali diabaikan orang, namun ternyata dampaknya sangat merugikan. Jadi, ketika Anda mengantuk, cuci mukalah supaya segar kembali. Sangat berbahaya apabila Anda sudah dalam kondisi mengantuk, tetapi tidak menyadarinya, sehingga berakibat tertidur bahkan tertidur untuk selama-lamanya alias mati sia-sia. Waspadailah! (Tony Tedjo sedang menyelesaikan disertasi untuk program doktoral (D.Th) di Harvest International Theological Seminary/HITS, penulis 11 buku, ketua School Of Writing/SOW, Ketua Redaksi Renungan Kabar Baik, Dosen di STT Kharisma)

HARI GINI MASIH NYONTEK?

Dilarang mencontek. Tulisan ini umumnya terpampang pada pengumuman ketika para pelajar dan mahasiswa hendak mengikuti ujian mata pelajaran di sekolah. Meski sudah ada larangan secara tertulis dan guru atau dosen memperingatkan secara lisan dengan memberikan sanksi bagi mereka yang ketahuan mencontek, namun tetap masih saja ada murid yang nyontek. Mencontek merupakan kebiasaan buruk yang harus dijauhi oleh para siswa dan mahasiswa. Sebab orang-orang yang suka menyontek merugikan dirinya sendiri. Memang pada awalnya mencontek itu kelihatan menguntungkan. Misalnya seorang siswa yang mencontek dari buku catatan pada waktu ulangan Matematika. Perbuatan buruknya saat itu tidak ketahuan. Setelah dibagikan hasilnya, ternyata nilai yang diperolehnya bagus. Tentu saja membuat orang yang mencontek tersebut keenakan. Sebab tidak perlu cape-cape belajar, tapi mendapat nilai bagus. Tentu saja bukan membuat jera, malah mengulangi mencontek terhadap ulangan mata pelajaran lain. Sehingga mencontek menjadi kebiasaannya. Akibatnya, dia malas belajar dan menjadi bodoh. Sehingga meski nilai Matematikanya di rapor 90, namun tidak bisa berhitung dan tidak mengerti perhitungan Matematika. Mencontek juga pernah dilakukan oleh sekitar 60 mahasiswa dari Harvard University. Harvard University yang terletak di Cambridge, Massachusetts ini dikenal sebagai salah satu universitas paling bergengsi di dunia. Setiap mahasiswa yang belajar di universitas ini bukan mahasiswa biasa. Mereka harus membayar uang kuliah sebesar US$ 63 ribu (Rp611 juta) per tahun. Enam puluh mahasiswa yang mencontek tersebut ketahuan saat berbuat curang sewaktu mengikuti ujian akhir. Mahasiswa-mahasiswa ini pun dikenai sanksi skorsing, sementara pihak kampus melakukan penyelidikan. Media kampus setempat, Harvard Crimson, mengutip pernyataan Dekan Fakultas Ilmiah dan Seni, Michael Smith yang mengatakan sebagian kasus ini telah diselidiki oleh otoritas kampus. Skandal mencontek massal ini terungkap ke publik pada Agustus 2012 lalu. Saat dilaporkan bahwa sekitar 125 mahasiswa Harvard saling mencontek ketika mengikuti ujian akhir. “Mereka mungkin telah mengkolaborasikan jawaban secara tidak layak, atau saling menyalin jawaban teman sekelasnya, pada ujian akhir,” demikian pernyataan pihak kampus. Kerugian Mencontek Jujur saja, mencontek lebih banyak merugikan daripada menguntungkan orang yang mempraktekkannya. Tanpa disadari, sewaktu seseorang mencontek sebenarnya dia sedang menaburkan benih yang buruk. Setelah beberapa waktu kemudian pasti dia akan menuai hasil dari apa yang sudah ditaburkan. ”Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermalukan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Apabila orang tersebut tidak berhenti melakukan perbuatan tidak terpuji tersebut, maka kerugian yang diderita semakin besar. Memang, dampak yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan tidak dirasakan saat itu juga. Namun yang pasti bahwa semua yang diperbuatnya akan ditanggung sendiri. Pelajaran yang didapat dari hal mencontek, yaitu: Pertama, jangan pernah menginginkan sesuatu secara instan. Misalnya hendak memperoleh kekayaan berlimpah tetapi tidak mau bekerja keras. Akhirnya tergiur dengan melakukan korupsi, penggelapan laporan keuangan, menjual narkoba, melakukan penipuan, dan sebagainya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tentu harus melalui proses belajar atau bekerja secara sungguh-sungguh. Tidak ada istilah instan; Kedua, untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, seperti mendapatkan nilai sempurna, tentu harus mau berkorban. Ada pengorbanan yang dilakukan, misalnya berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk membeli buku; Ketiga, dalam melakukan suatu perbuatan perlu memperhatikan dampaknya di kemudian hari. Apabila dirasakan akan membawa dampak buruk dan merugikan, sebaiknya berhenti sebelum semuanya menjadi terlambat; Keempat, jangan berusaha menghindari proses yang harus dijalani meski harus bekerja keras, sebab memang hanya itu jalan satu-satunya menuju pada keberhasilan. Sebab seseorang tidak mungkin mengalami keberhasilan tanpa melalui kerja keras. Kelima, ingat selalu bahwa kegagalan sekali tidak akan membuat hidupmu berakhir dalam kegagalan. Sekalipun gagal karena mendapat nilai buruk, padahal sudah belajar, tidak usah berkecil hati. Masih ada kesempatan kedua untuk memperbaiki nilai. Seringkali ada banyak keberhasilan besar diperoleh yang diawali dengan beberapa kali kegagalan. ”Segala sesuatu yang dikerjakan secara instan tanpa melalui proses, hasil akhirnya akan sangat jauh berbeda dibandingkan dengan sesuatu yang dikerjakan sesuai proses” Tony Tedjo telah menulis ratusan artikel dan ratusan renungan, 11 buku, konsultan penerbitan, Pendiri dan Ketua School Of Writing (SOW), Ketua Redaksi Renungan Kabar Baik, dosen di STT Kharisma Bandung, dapat ditemui di 0878 2333 8208 Pin BB 22441169.

Seminar Menulis

School Of Writing (SOW) kembali mengadakan Seminar Literatur dengan agenda berikut: Seni, tgl. 23 September 2013 jam 15.00-19.00 WIB "Jurus Sakti Menulis Novel" diadakan di Jalan Jendral Sudirman no 509 Bandung. Bersama Daniel R. Sihombing (penulis novel After the Strom) dan Tony Tedjo (Ketua SOW, Penulis buku 50 Messages for Wisdom). Investasi Rp80.000 (mendapatkan Snack, Sertifikat, dan Modul Seminar). Gratis bagi 80 pendaftar pertama Novel After the Storm dan buku 50 Messages for Wisdom. Untuk pendaftaran dan informasi hubungi 081394401799, 022 95193187. Seminar Menulis Buku "Jurus Dahsyat Menulis Buku" bersama Tony Tedjo (penulis 15 buku, Ketus SOW, dosen, konsultan penerbitan). Diadakan tgl. 15 Oktober 2013 jam 10.00-14.00 WIB. Bertempat di Jl. Jendral Sudirman no 509 Bandung. Investasi Rp120.000 (mendapat snack, sertifikat, modul pelajaran). Gratis 50 peserta pertama mendapat buku "Menyusun Kata-kata Merangkai Kalimat" dan "Mengenal Dunia Penulisan dan Pemasaran". Pendaftaran terakhir tgl. 8 Oktober 2013. Informasi 081394401799; 022 95193187.